Hai sobat science kenapa yah perilaku remaja semakin hari
semakin parah mau tahu penyebabnya nih dia penjelasannya.........\
Hari senin tanggal 23 kemarin hati saya terasa miris ketika
melihat berita di sebuah stasiun televisi swasta, di mana dua kelompok remaja
yang masih mengenakan seragam putih-biru terlibat baku-hantam di sebuah jalan
ibu kota Jakarta. Ya, itulah anak-anak pelajar SLTP kita yang sedang saling
serang satu sama lainnya, alias tawuran.
Kejadian itu langsung mengingatkan saya pada 1 tahun yang lalu, dimana
masyarakat kita digegerkan dengan tindakan-tindakan menyimpang yang dilakukan
oleh remaja kita, di Bandung dengan genk Motornya, di Pati dengan genk Neronya,
serta di tempat-tempat lainnya yang tidak sempat terekspos oleh media. Itulah
salah satu sisi kehidupan remaja di negara tercinta kita ini, yang konon akan
menjadi generasi penerus bangsa.
Bagi masyarakat kita, aksi-aksi kekerasan baik individual
maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian. Seperti yang kita ketahui
bersama untuk saat ini beberapa televisi (baik nasional maupun lokal) bahkan
membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi
kekerasan.
Aksi-aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di
jalan-jalan, di sekolah, di kompleks-kompleks perumahan, bahkan di pedesaan.
Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan
fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal
sebagai tawuran pelajar/masal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita
saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini
bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini
sangatlah memprihatinkan bagi kita semua
Aksi-aksi kekerasan yang sering dilakukan remaja
sebenarnya adalah prilaku agresi dari diri individu atau kelompok. Agresi
sendiri menurut Scheneiders (1955) merupakan luapan emosi sebagai reaksi
terhadap kegagalan individu yang ditampakkan dalam bentuk pengrusakan terhadap
orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata
(verbal) dan perilaku non verbal.
Agresif menurut Murry (dalam Halll dan Lindzey,1993)
didefinisiakan sebagi suatui cara untuk melawan dengan sangat kuat, berkelahi,
melukai, menyerang, membunuh, atau menghukum orang lain. Atau secara singkatnya
agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak
milik orang lain.
Perilaku agresif menurut David O. Sars (1985) adalah setiap
perilkau yang bertujuan menyakiti orang lain, dapat juga ditujukan kepada
perasaan ingin menyakiti orang lain dalam diri seseorang.
Sedangkan menurut Abidin (2005) agresif mempunyai beberapa
karakteristik. Karakteristik yang pertama, agresif merupakan tingkah laku yang
bersifat membahayakan, menyakitkan, dan melukai orang lain. Karakteristik yang
kedua, agresif merupakan suatu tingkah laku yang dilakukan seseorang dengan
maksud untuk melukai, menyakiti, dan membahayakan orang lain atau dengan kata lain
dilakukan dengan sengaja. Karakteristik yang ketiga, agresi tidak hanya
dilakukan untuk melukai korban secara fisik, tetapi juga secara psikis
(psikologis), misalnya melalui kegiatan yang menghina atu menyalahkan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan maka dapat
kita tarik kesimpulan bahwa prilaku agresif adalah sebuah tindakan kekerasan
baik secara verbal maupun secara fisik yang disengaja dilakukan oleh individu
atau kelompok terhadap orang lain atau objek-objek lain dengan tujuan untuk melaukai
secara fisik maupun psikis.
Pertanyaannya kemudian adalah faktor-faktor apa saja yang
dapat menjadi pemicu perilaku agresi tersebut? Mengapa kasus-kasus sepele dalam
kehidupan sosial masyarakat sehari-hari dapat tiba-tiba berubah menjadi bencana
besar yang berakibat hilangnya nyawa manusia? Mengapa Untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa
saja penyebab perilaku agresi.
Menurut Davidoff perilaku agresif remaja dipengaruhi oleh
beberapa faktor:
1. Faktor Biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku
agresif yaitu:
a. Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan
sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang
dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah
dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang
berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.
b. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi
ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan
agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan
merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia)
sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott
(Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan
sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami
kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan
penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk
menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang
disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.
c. Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks
yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku
agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteropada tikus
dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang
memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin
sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi
lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri
(dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang
sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogendan
progresteronmenurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan
mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak
wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat
berlangsungnya siklus haid ini.
2. Faktor lingkungan
Yang mempengaruhi perilaku agresif remaja yaitu:
a. Kemiskinan
Remaja yang besar dalam lingkungan kemiskinan, maka
perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan. Hal yang sangat
menyedihkan adalah dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonimi dan moneter
menyebabkan pembengklakan kemskinan yang semakin tidak terkendali. Hal ini
berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar. Ya walau harus kita
akui bahwa faktor kemiskinan ini tidak selalu menjadikan seseorang berperilaku
agresif, dengan bukti banyak orang di pedesaan yang walau hidup dalam keadaan
kemiskinan tapi tidak membuatnnya berprilaku agresif, karena dia telah menerima
keadaan dirinya apa adanya.
b. Anoniomitas
Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia
menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak
lagi saling mengenal. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim
(tidak mempunyai identiras diri). Jika seseorang merasa anonim ia cenderung
berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak terikkat dengan norma
masyarakat da kurang bersimpati dengan orang lain.
c. Suhu udara yang panas
Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di
Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari, tapi bila
musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi
demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan yang biasa
terjadi pada cuaca yang terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi
tersebut juga menjadi sepi.
Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu
lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa
peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan
bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak
terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et
al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992
3. Kesenjangan generasi
Adanya perbedaan atau jurang pemisah (gap) antara generasi
anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang
semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi antara
orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku
agresi pada anak.
4. Amarah
Marah merupakan emosi yang memiliki cirri-ciri aktifitas
system saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang
sangat kuat yang biasanya disebabkan akarena adanya kesalahan yang muingkin
nyata-nyata salah atau mungkin tidak (Davidoff, Psikologi Suatu Pengantar,
1991). Pada saat amrah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan
atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal tersebut
disalurkan maka terjadilah perilaku agresif.
5. Peran belajar model kekerasan
Model pahlawan-pahlawan di film-film seringkali mendapat
imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal bisa menjadikan penonton
akan semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang
menyenangkan dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dengan
menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadi proses belajar peran model
kekerasan dan hali ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya perilaku
agresif.
6. Frustasi
Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh ssesuatu
hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau
tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara merespon terhadap frustasi.
Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustasi yang behubungan dengan
banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang
harus segera tepenuhi tetapi sulit sekali tercap[ai. Akibatnya mereka menjadi
mudah marah dan berprilaku agresi.
7. Proses pendisiplinan yang keliru
Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang
keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan
berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan
Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti akan membuat remaja menjadi
seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, membenci orang yang memberi
hukuman, kehilangan spontanitas serta kehilangan inisiatif dan pada akhirnya
melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain.
Sejak manusia dilahirkan ke dunia ini ia akan melewati
beberapa priode kehidupan hingga saat dia sampai ke liang lahad. Masa
kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih
hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari
tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa
pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri, masing-masing mempunyai kelebihan
dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap
sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering
menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi
pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini
adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, dengan
mengetahui faktor penyebab seperti yang dipaparkan di atas diharapkan dapat
diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik dan terutama para remaja sendiri
dalam berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih baik sehingga
aksi-aksi kekerasan baik dalam bentuk agresi verbal maupun agresi fisik dapat
diminimalkan atau bahkan dihilangkan.
Khalil Gibran mengatakan bahwa anak adalah ibarat anak
panah. Pertanyaannya, sudahkah anak panah ini memperoleh kebebasan untuk
mengarahkan kemana yang ia tuju? Ataukah demi gengsi, atau apalah yang lain
anak panah itu akan dibawa dan ditancapkan pada sasaran? Remaja adalah sebuah
generasi dari suatu peradaban. Karenanya mempunyai peran strategis dalam
perencanaan pembangunan dan bahkan pada arah serta pelaku pembangunan itu
sendiri. Namun demikian perlakuan yang salah pada remaja baik yang nakal maupun
yang tidak oleh para orangtua dan pengambil kebijakan justru akan berakibat
semakin buruk pada peradaban bangsa itu.
Pertanyaan terakhir adalah sudahkan kita mengambil
langkah-langkah yang tepat guna mengarahkan perbuatannya kepada hal yang lebih
positif?
Daftar Pustaka
David, Jonathan Psikologi Sosial, Jakarta: Erlangga, 2005.
Hai sobat science kenapa yah perilaku remaja semakin hari
semakin parah mau tahu penyebabnya nih dia penjelasannya.........\
Hari senin tanggal 23 kemarin hati saya terasa miris ketika
melihat berita di sebuah stasiun televisi swasta, di mana dua kelompok remaja
yang masih mengenakan seragam putih-biru terlibat baku-hantam di sebuah jalan
ibu kota Jakarta. Ya, itulah anak-anak pelajar SLTP kita yang sedang saling
serang satu sama lainnya, alias tawuran.
Kejadian itu langsung mengingatkan saya pada 1 tahun yang lalu, dimana
masyarakat kita digegerkan dengan tindakan-tindakan menyimpang yang dilakukan
oleh remaja kita, di Bandung dengan genk Motornya, di Pati dengan genk Neronya,
serta di tempat-tempat lainnya yang tidak sempat terekspos oleh media. Itulah
salah satu sisi kehidupan remaja di negara tercinta kita ini, yang konon akan
menjadi generasi penerus bangsa.
Bagi masyarakat kita, aksi-aksi kekerasan baik individual
maupun massal mungkin sudah merupakan berita harian. Seperti yang kita ketahui
bersama untuk saat ini beberapa televisi (baik nasional maupun lokal) bahkan
membuat program-program khusus yang menyiarkan berita-berita tentang aksi
kekerasan.
Aksi-aksi kekerasan dapat terjadi di mana saja, seperti di
jalan-jalan, di sekolah, di kompleks-kompleks perumahan, bahkan di pedesaan.
Aksi tersebut dapat berupa kekerasan verbal (mencaci maki) maupun kekerasan
fisik (memukul, meninju, dll). Pada kalangan remaja aksi yang biasa dikenal
sebagai tawuran pelajar/masal merupakan hal yang sudah terlalu sering kita
saksikan, bahkan cenderung dianggap biasa. Pelaku-pelaku tindakan aksi ini
bahkan sudah mulai dilakukan oleh siswa-siswa di tingkat SLTP/SMP. Hal ini
sangatlah memprihatinkan bagi kita semua
Aksi-aksi kekerasan yang sering dilakukan remaja
sebenarnya adalah prilaku agresi dari diri individu atau kelompok. Agresi
sendiri menurut Scheneiders (1955) merupakan luapan emosi sebagai reaksi
terhadap kegagalan individu yang ditampakkan dalam bentuk pengrusakan terhadap
orang atau benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata
(verbal) dan perilaku non verbal.
Agresif menurut Murry (dalam Halll dan Lindzey,1993)
didefinisiakan sebagi suatui cara untuk melawan dengan sangat kuat, berkelahi,
melukai, menyerang, membunuh, atau menghukum orang lain. Atau secara singkatnya
agresi adalah tindakan yang dimaksudkan untuk melukai orang lain atau merusak
milik orang lain.
Perilaku agresif menurut David O. Sars (1985) adalah setiap
perilkau yang bertujuan menyakiti orang lain, dapat juga ditujukan kepada
perasaan ingin menyakiti orang lain dalam diri seseorang.
Sedangkan menurut Abidin (2005) agresif mempunyai beberapa
karakteristik. Karakteristik yang pertama, agresif merupakan tingkah laku yang
bersifat membahayakan, menyakitkan, dan melukai orang lain. Karakteristik yang
kedua, agresif merupakan suatu tingkah laku yang dilakukan seseorang dengan
maksud untuk melukai, menyakiti, dan membahayakan orang lain atau dengan kata lain
dilakukan dengan sengaja. Karakteristik yang ketiga, agresi tidak hanya
dilakukan untuk melukai korban secara fisik, tetapi juga secara psikis
(psikologis), misalnya melalui kegiatan yang menghina atu menyalahkan.
Dari beberapa definisi yang telah dikemukakan maka dapat
kita tarik kesimpulan bahwa prilaku agresif adalah sebuah tindakan kekerasan
baik secara verbal maupun secara fisik yang disengaja dilakukan oleh individu
atau kelompok terhadap orang lain atau objek-objek lain dengan tujuan untuk melaukai
secara fisik maupun psikis.
Pertanyaannya kemudian adalah faktor-faktor apa saja yang
dapat menjadi pemicu perilaku agresi tersebut? Mengapa kasus-kasus sepele dalam
kehidupan sosial masyarakat sehari-hari dapat tiba-tiba berubah menjadi bencana
besar yang berakibat hilangnya nyawa manusia? Mengapa Untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan tersebut, ada baiknya kita memahami terlebih dahulu apa
saja penyebab perilaku agresi.
Menurut Davidoff perilaku agresif remaja dipengaruhi oleh
beberapa faktor:
1. Faktor Biologis
Ada beberapa faktor biologis yang mempengaruhi perilaku
agresif yaitu:
a. Gen tampaknya berpengaruh pada pembentukan
sistem neural otak yang mengatur perilaku agresi. Dari penelitian yang
dilakukan terhadap binatang, mulai dari yang sulit sampai yang paling mudah
dipancing amarahnya, faktor keturunan tampaknya membuat hewan jantan yang
berasal dari berbagai jenis lebih mudah marah dibandingkan betinanya.
b. Sistem otak yang tidak terlibat dalam agresi
ternyata dapat memperkuat atau menghambat sirkuit neural yang mengendalikan
agresi. Pada hewan sederhana marah dapat dihambat atau ditingkatkan dengan
merangsang sistem limbik (daerah yang menimbulkan kenikmatan pada manusia)
sehingga muncul hubungan timbal balik antara kenikmatan dan kekejaman. Prescott
(Davidoff, 1991) menyatakan bahwa orang yang berorientasi pada kenikmatan akan
sedikit melakukan agresi sedangkan orang yang tidak pernah mengalami
kesenangan, kegembiraan atau santai cenderung untuk melakukan kekejaman dan
penghancuran (agresi). Prescott yakin bahwa keinginan yang kuat untuk
menghancurkan disebabkan oleh ketidakmampuan untuk menikmati sesuatu hal yang
disebabkan cedera otak karena kurang rangsangan sewaktu bayi.
c. Kimia darah. Kimia darah (khususnya hormon seks
yang sebagian ditentukan faktor keturunan) juga dapat mempengaruhi perilaku
agresi. Dalam suatu eksperimen ilmuwan menyuntikan hormon testosteropada tikus
dan beberapa hewan lain (testosteron merupakan hormon androgen utama yang
memberikan ciri kelamin jantan) maka tikus-tikus tersebut berkelahi semakin
sering dan lebih kuat. Sewaktu testosteron dikurangi hewan tersebut menjadi
lembut. Kenyataan menunjukkan bahwa anak banteng jantan yang sudah dikebiri
(dipotong alat kelaminnya) akan menjadi jinak. Sedangkan pada wanita yang
sedang mengalami masa haid, kadar hormon kewanitaan yaitu estrogendan
progresteronmenurun jumlahnya akibatnya banyak wanita melaporkan bahwa perasaan
mereka mudah tersinggung, gelisah, tegang dan bermusuhan. Selain itu banyak
wanita yang melakukan pelanggaran hukum (melakukan tindakan agresi) pada saat
berlangsungnya siklus haid ini.
2. Faktor lingkungan
Yang mempengaruhi perilaku agresif remaja yaitu:
a. Kemiskinan
Remaja yang besar dalam lingkungan kemiskinan, maka
perilaku agresi mereka secara alami mengalami penguatan. Hal yang sangat
menyedihkan adalah dengan berlarut-larut terjadinya krisis ekonimi dan moneter
menyebabkan pembengklakan kemskinan yang semakin tidak terkendali. Hal ini
berarti potensi meledaknya tingkat agresi semakin besar. Ya walau harus kita
akui bahwa faktor kemiskinan ini tidak selalu menjadikan seseorang berperilaku
agresif, dengan bukti banyak orang di pedesaan yang walau hidup dalam keadaan
kemiskinan tapi tidak membuatnnya berprilaku agresif, karena dia telah menerima
keadaan dirinya apa adanya.
b. Anoniomitas
Terlalu banyak rangsangan indra dan kognitif membuat dunia
menjadi sangat impersonal, artinya antara satu orang dengan orang lain tidak
lagi saling mengenal. Lebih jauh lagi, setiap individu cenderung menjadi anonim
(tidak mempunyai identiras diri). Jika seseorang merasa anonim ia cenderung
berperilaku semaunya sendiri, karena ia merasa tidak terikkat dengan norma
masyarakat da kurang bersimpati dengan orang lain.
c. Suhu udara yang panas
Bila diperhatikan dengan seksama tawuran yang terjadi di
Jakarta seringkali terjadi pada siang hari di terik panas matahari, tapi bila
musim hujan relatif tidak ada peristiwa tersebut. Begitu juga dengan aksi-aksi
demonstrasi yang berujung pada bentrokan dengan petugas keamanan yang biasa
terjadi pada cuaca yang terik dan panas tapi bila hari diguyur hujan aksi
tersebut juga menjadi sepi.
Hal ini sesuai dengan pandangan bahwa suhu suatu
lingkungan yang tinggi memiliki dampak terhadap tingkah laku sosial berupa
peningkatan agresivitas. Pada tahun 1968 US Riot Comision pernah melaporkan
bahwa dalam musim panas, rangkaian kerusuhan dan agresivitas massa lebih banyak
terjadi di Amerika Serikat dibandingkan dengan musim-musim lainnya (Fisher et
al, dalam Sarlito, Psikologi Lingkungan,1992
3. Kesenjangan generasi
Adanya perbedaan atau jurang pemisah (gap) antara generasi
anak dengan orang tuanya dapat terlihat dalam bentuk hubungan komunikasi yang
semakin minimal dan seringkali tidak nyambung. Kegagalan komunikasi antara
orang tua dan anak diyakini sebagai salah satu penyebab timbulnya perilaku
agresi pada anak.
4. Amarah
Marah merupakan emosi yang memiliki cirri-ciri aktifitas
system saraf parasimpatik yang tinggi dan adanya perasaan tidak suka yang
sangat kuat yang biasanya disebabkan akarena adanya kesalahan yang muingkin
nyata-nyata salah atau mungkin tidak (Davidoff, Psikologi Suatu Pengantar,
1991). Pada saat amrah ada perasaan ingin menyerang, meninju, menghancurkan
atau melempar sesuatu dan biasanya timbul pikiran yang kejam. Bila hal tersebut
disalurkan maka terjadilah perilaku agresif.
5. Peran belajar model kekerasan
Model pahlawan-pahlawan di film-film seringkali mendapat
imbalan setelah mereka melakukan tindak kekerasan. Hal bisa menjadikan penonton
akan semakin mendapat penguatan bahwa hal tersebut merupakan hal yang
menyenangkan dan dapat dijadikan suatu sistem nilai bagi dirinya. Dengan
menyaksikan adegan kekerasan tersebut terjadi proses belajar peran model
kekerasan dan hali ini menjadi sangat efektif untuk terciptanya perilaku
agresif.
6. Frustasi
Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh ssesuatu
hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, pengharapan atau
tindakan tertentu. Agresi merupakan salah satu cara merespon terhadap frustasi.
Remaja miskin yang nakal adalah akibat dari frustasi yang behubungan dengan
banyaknya waktu menganggur, keuangan yang pas-pasan dan adanya kebutuhan yang
harus segera tepenuhi tetapi sulit sekali tercap[ai. Akibatnya mereka menjadi
mudah marah dan berprilaku agresi.
7. Proses pendisiplinan yang keliru
Pendidikan disiplin yang otoriter dengan penerapan yang
keras terutama dilakukan dengan memberikan hukuman fisik, dapat menimbulkan
berbagai pengaruh yang buruk bagi remaja (Sukadji, Keluarga dan Keberhasilan
Pendidikan, 1988). Pendidikan disiplin seperti akan membuat remaja menjadi
seorang penakut, tidak ramah dengan orang lain, membenci orang yang memberi
hukuman, kehilangan spontanitas serta kehilangan inisiatif dan pada akhirnya
melampiaskan kemarahannya dalam bentuk agresi kepada orang lain.
Sejak manusia dilahirkan ke dunia ini ia akan melewati
beberapa priode kehidupan hingga saat dia sampai ke liang lahad. Masa
kanak-kanak, remaja, dewasa, dan kemudian menjadi orangtua, tidak lebih
hanyalah merupakan suatu proses wajar dalam hidup yang berkesinambungan dari
tahap-tahap pertumbuhan yang harus dilalui oleh seorang manusia. Setiap masa
pertumbuhan memiliki ciri-ciri tersendiri, masing-masing mempunyai kelebihan
dan kekurangan. Demikian pula dengan masa remaja. Masa remaja sering dianggap
sebagai masa yang paling rawan dalam proses kehidupan ini. Masa remaja sering
menimbulkan kekuatiran bagi para orangtua. Masa remaja sering menjadi
pembahasan dalam banyak seminar. Padahal bagi si remaja sendiri, masa ini
adalah masa yang paling menyenangkan dalam hidupnya. Oleh karena itu, dengan
mengetahui faktor penyebab seperti yang dipaparkan di atas diharapkan dapat
diambil manfaat bagi para orangtua, pendidik dan terutama para remaja sendiri
dalam berperilaku dan mendidik generasi berikutnya agar lebih baik sehingga
aksi-aksi kekerasan baik dalam bentuk agresi verbal maupun agresi fisik dapat
diminimalkan atau bahkan dihilangkan.
Khalil Gibran mengatakan bahwa anak adalah ibarat anak
panah. Pertanyaannya, sudahkah anak panah ini memperoleh kebebasan untuk
mengarahkan kemana yang ia tuju? Ataukah demi gengsi, atau apalah yang lain
anak panah itu akan dibawa dan ditancapkan pada sasaran? Remaja adalah sebuah
generasi dari suatu peradaban. Karenanya mempunyai peran strategis dalam
perencanaan pembangunan dan bahkan pada arah serta pelaku pembangunan itu
sendiri. Namun demikian perlakuan yang salah pada remaja baik yang nakal maupun
yang tidak oleh para orangtua dan pengambil kebijakan justru akan berakibat
semakin buruk pada peradaban bangsa itu.
Pertanyaan terakhir adalah sudahkan kita mengambil
langkah-langkah yang tepat guna mengarahkan perbuatannya kepada hal yang lebih
positif?
Daftar Pustaka
David, Jonathan Psikologi Sosial, Jakarta: Erlangga, 2005.
Read more ...
URL : https://satriyasblog.blogspot.com/2013/05/perilaku-agresif-remaja.html